Karena Semua Orang Butuh Me-Time

Duduk dengan perasaan asing dan hanya ditemani secangkir kopi. Duduk ditengah keramaian tapi kamu merasa sendiri. Duduk bersandar di sebuah kedai minum tapi pikiran berkelana dan menari-nari. Pernah ngalamian perasaan kayak gitu? Saya pernah. Bukan, saya nggak akan ngajak kamu untuk galau, masih terlalu pagi. Tapi ini tentang me-time.

Kalau pikiran lagi penat banget, biasanya saya jalan-jalan, atau muter-muter, atau keduanya. Tempat yang paling asik adalah sepanjang Jalan Malioboro. Atmosfernya dapet. Apalagi di sore hari dengan cuaca yang pas. Biasanya saya jalan berhimpitan dengan para pelancong dan pedagang yang  menawarkan barang dagangannya. Kadang saya curi-curi dengar obrolan mereka, atau kalau lagi niat, bisa nimbrung dan ngobrol banyak sama mereka, orang asing. Nggak papa, toh cuma sekali ketemu ini, besok juga udah lupa.

Kalau sehabis jalan-jalan saya masih penat, biasanya dilanjutkan dengan mengunjungi satu tempat, entah toko buku atau kedai minum, untuk kembali bergumul dengan pikiran. Di toko boku biasanya saya baca banyak sinopsis buku tanpa beli (iyalah, saya kan kere), kalau di kedai minum, biasanya saya kesana kalau haus (ya iyalah!), saya pesen minum, ngambil buku bacaan yang ada disana dan berlama-lama baca sambil minum pelan-pelan (trik biar nggak di usir). Oh ya, semuanya saya lakukan sendiri. Benar-benar sendiri.

Kadang-kadang pergi sendiri itu asyik. Nggak perlu banyak mikir.
Hmm, udah lama juga saya nggak me-time-an.


Nah, kartu ini nih, yang bikin saya kangen sama suasana me-time. Pengirimya adalah Mbak Regina dari Menden, Jerman. Gambar di kartu ini adalah karya seorang pelukis Amerika, Edward Hopper yang berjudul Automat (1927). Tua banget ya umur lukisannya. Bahkan di tahun segitu nenek saya belum lahir tuh.. eh apa udah? entahlah...

Diaz Bela Yustisia

No comments:

Post a Comment

Instagram